WHAT'S NEW?
Loading...
Desember: Sebuah Teduh dan Perjalanan Sunyi  

~Sigit Pamungkas ~

Barangkali takdir memang telah mengekalkan hujan, basah, dan Desember sebagai sesuatu yang harus dinikmati. Pada bangku ke duabelas di kedai itu kau sering meresapi lembab Desember sebagai teman setia menikmati hari.

Kau akan duduk lalu memesan secangkir kopi dengan tambahan sedikit gula. Dengan khidmat kau mengaduk kopimu dan akan mulai menghirup aroma harum yang menguar pada ruang yang sedikit lengang itu.

Kau memang selalu memilih berkunjung ke kedai itu pada jam-jam sunyi. Dimana dalam ruang berukuran enam kali tiga meter itu kau bebas berlama-lama tanpa banyak dihinggapi kegaduhan bising suara-suara. Lalu kau akan selalu menatap keluar melalui bingkai jendela yang lapuk itu. Barangkali kau sibuk menghitung bulir-bulir hujan yang jatuh menyentuh tanah. Atau juga ingatan mu sedang melayang menyusuri bukit-bukit hijau di selatan dengan desau angin yang selalu basah di antara lambai pepucuk akasia yang seolah-olah mengajakmu menyusuri lembab lumut-lumut hijau yang banyak tumbuh di lantai hutan.

Selalu seperti itu. Desember bagimu adalah sesuatu yang teduh, sejuk, sekaligus murung karena langit akan senantiasa mengunjungimu, untuk kemudian membawa ingatanmu dan mengasingkanmu di antara perjalanan-perjalanan sunyimu.

Jogjakarta, 3 Desember 2016



Dadamu, dinda, adalah semesta tempat pengelana menambatkan letih kembara; aku musafir di gurun rindumu
#
Kutemukan lembar kenangan di pondok kayu tua, terselip di sudut luka dengan lebam di matanya;begitu nelangsa
#
Pada riak air kuberkaca tentang perjalanan luka; betapa, kenangan tak begitu saja beranjak dari dekap tuannya-Cinta
#
Maka menjadilah malam, kelak akan kutanamkan pohon kerinduan di sepanjang remang jalan kenangan
#
Akan kulukis wajah pagi di sela warna pelangi, kelak embun akan menerjemahkan menjadi selarik rindu di kuncup melati
#
Bersemayamlah di ingatanku, biar kukekalkan rindumu bersama waktu
#
Pagi kian menua, tak lagi mampu embun menggurat baitbait aksara di jenggala rindu yang kian rimbun
#
Satu satu daun gugur menyentuh tanah, begitu pula kenangan terkubur di gelap ingatan
#
Dan gerak angin, lunglai dalam lambaian perpisahan. Kita, hanya mampu menangisi kepergian cinta yang begitu tibatiba
#
Di gersang savana, air mata menjadi labuhan luka, dengan sepotong matahari yang erat memeluk lusuh kenangan
#
Ada yg begitu terngiang di lagu angin, konser kerinduan yg hingar nian, berdenging di telinga kenangan
#
Ada yang terlupa setelah pergimu: menidurkan rindu
#
Dan Tuhan akan menatah langit dengan guratgurat pelangi, seabadi cinta yang menaungi setiap hati, dari dada Ibu yang surgawi
#
Masih tersisa lembar kosong di kertas terakhir catatan pagi, kelak akan kutulis tebaltebal di situ; sebuah doa yang abadi
#
Kadang di lembah sunyiku, matahari begitu enggan menuliskan hangatnya; mungkin ia malu memandang pijar matamu
#
Pagi kadang memberiku seikat hujan warna-warni, namun tak jarang ia pun mengirimkan sepi yg dititipkan lewat embun
#
Lalu sepi ini hunjamkan nyeri pada jantung puisi; seraut wajah menangisi kenangan yang gugur dari getas ranting senja




Musim meniupkan deru angin barat, dan pagi mengetukjendela dengan rindu yang kian sarat
#

Gerit daun pintu bambu,pondok tua yang berdebu itu--ah, betapa kenangan masih saja bermain-main di ingatanku
#
Gerisik daun bambu,bulan di sela awan kelabu; betapa senja seakan irama luka yang keluar dari bilik kenangan purba
#
Ingin kubaca gurat-gurat makna pada matamu yang senja, masihkah di sana bisa kutemu jejak rinduku yang dulu?
#
Kelak, raga kita akan merapuh seiring usia, namun kenangan akan tetap bergema seperti suara genta di hening semesta
#
Sepi itu, ketika langit senja tiba-tiba menumpahkan butir-butir kenangan dan kita saling diam berpisah jalan
#
Cerlang matamu, pendar cahaya lampu itu, penunjuk jalan biduk ku, mengarung samudera biru; hatimu
#
Ada helai gugur daun mahoni melayang di gigir pagi, mungkin itu kenangan rapuh yang semalam tak sempat kusinggahi
#
Senja kelabu tua, saat kita berlarian di bawah mega tanpa langit jingga, menepikan luka-luka
#
Bejana rindu telah retak,kini kita mencoba menepis jarak,didera waktu yang terus berdetak
#
Di remang kabut, pagi lamat-lamat menguak langit dengan kilau cahaya;menghangatkan semesta dengan cara yang bersahaja
#
Hujan merinai bagai tirai kenangan yang melambai diembus angin; sepotong bulan menangisi kuncup kamboja yang luruh lunglai
#
Di jenggala waktu,kenangan kian dalam menghunjamkan luka; tak juausai sepi memahat tangis dipelataran rumah duka
#
Di balik tirai yang rahasia, malam menggumamkan sebait doa, dan di atas sana langit mengamininya
#
Gerimis turun di sela daun-daun randu, saat di tikungan itu kita saling melambaikan tangan, dan perpisahan menjadi sebuah kisah tanpa kata
#
Jika senja adalah lenganmu betapa ingin aku lesap dalam dekapmu, endapkan segala lelah jiwaku
#
Dan senja tak pernah usai mempuisikan kenangan luka, kelak dia akan kembali dengan luka yang berbeda;mungkin saja
#
Senja jatuh di gigir bukit membawa sekeping sunyi;sepasang kunang-kunang menyematkan cahaya di rerimbun bambu;cahaya rindumu
#
Hujan siang ini menempiaskan rindu di berandaku... Kenangan tiba-tiba saja bertandang membawa payung hitam
#
Angin barat meliukkan rerimbun daun kenari, dan ini kesekian kali aku menunggumu di dermaga tua, memintal luka-luka
#
Rerimbun akasia di tepi telaga, menyajakkan kepedihan luka sang pengelana; betapa cinta tak dapat diterka
#
Aku mengadukan luka pada langit, betapa setiap detik kehilanganmu adalah sesuatu yang ambigu
#
Seperti dedahan itu, kelak kita pun akan patah dan rapuh, kembali menyatu dengan tanah
#
Sesamar nebula yang mengambang di luas jumantara, cinta menaungi kita, tak teraba di sisi hati yang entah, namun kita percaya; dia ada
#

Biarkan saja cinta mengembara menemukan rumahnya, dia tidak buta. Hanya saja belum tiba waktunya dia berdiam di sana
#
Lalu tangis mu lesap di jenggala waktu, menumbuhkan sulur-sulur luka yang kian lekap memelukku
#
Musim menggugurkan dahan kenangan, dan hujan menghanyutkannya bersama luka, menyambangi sepi yang masih berdiam diri

Ini tentang sepi. Sebaitpuisi duduk menjala mimpi pada suatu senja, ketika langit berkubang air mata
#
Kecipak embun yang jatuh di tenang telaga, adalah detak rinduku yang kusuarakan lewat bahasa kalbu
#
Malam kian merimbunkan sunyi yang menjalar di langit-langit kenangan, sebab hujan demikian riuh melafalkan bait-bait doa pengharapan
#
Kita bersua pada suatu ketika, dalam diam yang kita cipta di arena yang penuh luka
#
Tak perlu kita hamburkan kata, karena dalam diam pun cinta mampu bersuara
#
Dalam diam kusesap sepi hingga letih ini melautkan mimpi
#
Ada gigil kesunyian saat hujan mendentingkan nyanyian luka,dan angin gunung menggiring sepi menuju peraduan abadi
#
Rindu kita mungkin hanya sandiwara sekedar untuk menyamarkan kecewa ; penantian yang dusta
#
Tentang perempuan bermata rembulan itu, di mana embun meneteskan teduhnya di rekah bungabunga rosela
#
Segala tentang pagi adalah langit yang tak henti mengumandangkan suarasuara yang begitu harmoni, juga mimpi yang bergegas pergi
#
Embun menetes dari sulur-sulur kenangan, mengalirkan rindu memenuhi segenap ingatan
#
Di sebuah pagi pada suatu hari, embun akan mengabarkan padamu tentang harap yang kau sampaikan pada langit
#
Di ambang subuh embun mengetuk pintu langit, menyampaikan doa yang kutitipkan kepadanya; aku percaya Tuhan ada di sana
#
Di suatu tempat yang tak bernama, di sanalah kembara langkah memapah gundah untuk istirah; melelapkan lelah
#
Nun, di kedalaman sunyi, rindu berlarian menyusur tepi perigi menuju entah; mungkin hatimu yang tak terjamah
#
Dan, dahan-dahan kayu rapuh memamah sepi dengan derak yang gaduh, patah menderaikan angkuh
#
Kubaitkan puisi sepi di hening subuh, ketika letih ini memaksa aku untuk bersimpuh
#
Ada suaramu yang menggema di ingatanku, dan aku lupa cara untuk melupakanmu
#
Kita terlalu sering menjamu malam dengan sekotak kenangan, hingga letih memenuh angan
#
Kutemukan secarik kenangan di ujung jalan itu, mungkin kamu telah menghanyutkannya bersama hujan senja tadi
#
Hujan menetes riuh di atas bunga-bunga bakung, tempat di mana kita saling menambatkan rindu yang demikian agung
#
Beratap rumbia, itu rumah kita. Tempat rindu kita beranak pinak, begitu marak
#
Ketika senja begitu muram, langit menjatuhkan selembar puisi tentang hujan, dan angin berkejaran di tepian laguna
#
Kenangan, hanyalahsebentuk ingatan yang berdiamlama di samudra kegalauan
#
Singgahlah di berandaku, mari kita nikmati hidangan rindu, dan secangkir pahit kenangan lalu. Mau?
#
Di sisi gelap hatimu, ijinkan aku menjadi cahaya itu, cahaya rindu
#
Gurat cahaya, kilau embun di bening mata, engkaulah pagi yang senantiasa melangitkan doa; hamba yang bersahaja
Bersimbah doa, seraut wajah menitipkan rindu pada angin; berharap kesedihannya larut bersama tetes embun di pucuk daun beringin

#
Dari sebuah pagi di musim yang entah, kenangan masih saja memantulkan gema nyanyian purba; tak jua lelah
#
Dari musim yang begitu renta, kita bisa belajar tentang setia
#
Nanti pada saatnya, kenangan akan menuntunmu menjelajah sekat sepiku, dan aku akan tetap menunggu;kehadiranmu
#
Dan di dingin malam,kesunyian adalah sahabat hatiyang tercampakkan; sebuahlukisan kesedihan
#
Ada kenangan yang begitu meruah ketika malam mendentingkan desir kesunyiannya--getir yg gundah
#
Mungkin waktu adalah sebuah kisaran rindu, di mana bagi hatimu, hujan adalah bias kenangan yang mencahayakan cinta itu
#
Angin melangitkan selembar kerinduan, dan hujan mengubahnya menjadi titik-titik kenangan di lembah-lembah kesunyian
#
Lalu hujan menderaskan sebait puisi bersama awan-awan kelabu tua yang berarakan di langit kenangan
di langit siang yg begini lengang, bayangmu pun enggan mengambang, mungkin harus kudendangkan sebuahtembang?
#
Ada sisa hujan menggenang di halaman; hadirkan gigil sepi pada suatu pagi; pd sebuah hati yang tersakiti
#
Seperti sungai yang tak henti mengalir, begitu pula diri kita mengikuti takdir
#
Matamu serupa kopi, hitam yang misteri adalah sesuatu yang ingin kuselami, tanpa henti
#
Serupa kopi di senja yang berhujan, begitu saja kenangan datang bertandang, dikala hati kesepian
#
Akan kucahayai gelap dihatimu dengan lilin cintaku, kekasih, biar hambar segala duka yang tergambar
#
Di bilik kenangan, sebatang lilin tlah padam; dan kini hanya ada senyap yang berkumandang. Lengang
#
Rumah kita, kekasih, tempat menyapih luka paling perih, sementara lilin kasih tetap bercahaya;tak pernah letih
#
Telah kuendapkan luka ini di tempat paling sepi, diterangi cahaya suram lilin mimpi dalam balutan kenangan yang kian pasi
Seperti dedaunan yang jatuh di taman, kenangan datang dalam percakapan yang diam di hadapan lilin yang telah padam
#
Kuminta jangan pergi, isakmu suatu pagi. Tapi mentari terlanjur merenggutku dari pucuk daun; karna aku lah embun
#
Karena hanya dengan larik puisi ini aku bisa memaknai pagi, mengarti sunyi, maka, biarkan sepi melagukan denting kerinduannya

#
Mungkin engkau telah menjelma angin pagi, menggoyang pucuk-pucuk daun turi; ah aku tak sempat mengemas mimpi
#
Selembar puisi terselip di antara rimbun pohon mahkota dewa, mungkin tadi langit mengirimkannya
#
Tak ada cerlang purnama kini, hanya sepi menyayat nyeri; di lengang savana aku memakamkan mimpi
#
Tentang seraut wajah malam, di mana letih begitu ingin pejam; hendak kutambatkan sepi ini pada anjungan mimpi
#
Di kaki lazuardi, mimpi punya jalannya sendiri; mungkin hendak ingkari sepi
#
Lautan memang selalu bergelombang; dan betapa aku ingin setabah karang, tak pukang meski badai mengguncang
di lengang malam yang entah, sebaris puisi mendentingkan suara tentang rindu yang gundah; ah betapa letih hati memangku mimpi yang patah
#
Tentang malam yang menghadirkan ribuan kunang-kunang, aku tersesat di lorong labirin kenangan, tak tahu jalan pulang
#
Aku bukan sesiapa, aku hanya sebongkah rasa yang ingin melangitkan doa agar harimu ceria
#
Aku pemuja rasa yang fakir kata; adamu yang nyata tlah cukup biaskan ceria, tak harus aku menulis cerita
#
Pagi menenun asa dalam bias rasa ceria, selincah burung-burung gereja yang bergelayut di dedahan rosela
#
Ceria kita, merangkai gurat-gurat kata ketika pagi menafaskan cinta di luas semesta--tak ada lagi luka
#
Rindu aku; kanak-kanak masa dulu, mengejar kupukupu.Memetik ceria dengan pagi di genggamannya
#
Butiran hujan, merajam kesendirian menjadi sepi yang paling menyakitkan
#
Sehelai kenangan kusam, tertambat di beranda sepi. Tersia dan nyaris mati
Di sayap malam, tiap helainya menyimpan sebaris puisi tentang rindu yang ingin kutuntaskan; denganmu
#
Malam membisu dalam dekap dadamu. Kucoba mencari hangat dalam pijar rindu yg kian riuh bertalu
#


Entah mengapa hujan senja kali ini berwarna biru. Mungkin ini lebam karna dihantam rindu bertalu-talu
#
Dan sunyi menjalari setiap lekuk hati, memahat luka nganga di suwung semesta
#
Tentang remang malam, saat bulan meneteskan bulir-bulir kenangan tentang masa silam; kunamakan ini kesunyian
#
Dari getas ranting kenangan menjelma daun kering, dibawa angin pada sebuah subuh yang hening
#
Menangislah, jika dengan air mata kau mampu mencerna cinta yang kau angankan
#
Ada hal-hal yang tak pernah selesai kita utarakan, aksara-aksara yang berkelindan di ingatan; gagap yang diam
#
Selalu saja, saat pagi datang kita bergegas menutup buku kenangan yang tak pernah usai kita baca
#
Ada hal-hal yang tak pernah selesai kita utarakan, aksara-aksara yang berkelindan di ingatan; gagap yang diam
#
Sepi menetes dari pucuk-pucuk rimbun bambu, menimang rindu, melelapkan kenangan pada akar-akar kesunyian
#
Di remang rembulan, kenangan menjelma menjadi gumpal gemawan, berarak melagukan bait-bait kesepian
#
Di tepian sunyi, kunang-kunang berdiam diri menyesap sepi dalam dunia yang tak ku kenali; mungkin negri mimpi
#
Ada kepak sayap angin di langit malam, membawa bulir hujan bersama sehelai kenangan dalam gigil rindu yang kian tak berkesudahan

#
Jika senja tak mampu membebat luka, mungkin angin bisa menunjukkan jalan kembali ke rumah tempat duka menemukan pelabuhannya; dermaga cinta
#
Sepasang tangan mungil anak-anak waktu gemulai menarikan tarian rindu, di cekung matanya, air mata menganak sungai
#
Dan ranum simalakama begitu menggoda, memenjarakan kita dalam dilema; akan diberikan kepada siapa?
#
Nyanyian rimba, anak anak angin yang bercengkrama, betapa kenangan merimbun di sudut telaga; berbuah luka
#
Pada matamu yg langit,pagi mencairkan segala gigil meski mendung tebal menggantung, meranumkan rindu yg pahit
#
Mendung berarak di langit utara, membawa serta nyanyian purba yang dulu sempat membuat kita lena-- Cinta
#
Selalu; aku tak ingin beranjak dari jarakmu yg hanya sedepa di depanku, merajut aksara, memilin kata menjadi selembar langit berwarna biru
#
Lalu embun-embun itu bercengkrama dg anak-anak angin, menguarkan gelak, memetik seikat hujan yang berwarna oranye

#
Di matamu aku menemukan pagi rekahkan pintu langit dgn sebaris cahaya, mengelus lembut lumut gunung, dan aku takjub dgn kekaguman yg ngungun
#
Karna kau lah bintang hatiku, tempat paling terang di saat yang lain memilih gelap sebagai tempat untuk berdiang
#
Sebentar lagi hujan akan menyambangi kotamu, biarkan dia menetes di ceruk matamu, akan kau lihat, betapa sepi tak mampu membunuhku
#
Pada silir angin senja yang bercengkrama, betapa lena kita menjelajah, luas sawana, beriring dalam gelak; menyatukan rasa

#
Hujan tak bercerita tentang apapun, dia hanyalah teman setia waktu melamun
#
Sepi ini koloni dari negeri yg jauh, menghamburkan begitu banyak mesiu rindu, menebar partikel debu yg membuat sesak nafasku; kehilanganmu
#
Begitu giras, sepi berlarian di sepanjang teras, menjelajah ruang-ruang yang tak sempat terjamah matahari yang kadang menyalak keras-keras
#
Begitu saja, aku terdampar di sebuah negeri asing, di mana segalanya seakan terasa basah sepanjang musim--air mata kian menguning
Hujan selalu begitu, menghadirkan sendu tentang hijau semak-semak pakis yang terkadang membuatku menangis
#
Lelaplah segala letih yang telah merajah di segala tempat yang telah kau jamah; aku hanyalah keping malam yang demikian lelah menata langkah
#
Lalu sentuh rindumu mencairkan beku, menjalarkan segala hangat pada dinding malam yang kian pekat
#
Ada pekik hening yang begitu bening ketika langit mengirimkan cahaya pagi; menelusup di rerimbun bambu-bambu kuning

#
Angin membawa doadoa menuju samodera, dan awan menerjemahkannya menjadi hujan di utara; kita menampungnya sebagai penyembuh lukaluka
#
Liuk bunga asoka menadah embun yang bergelayut di basah daun, betapa pagi adalah saat di mana rindu riuh mengalun
#
Ada wangi bunga kemuning tertinggal di basah pagi, di mana sepasang kenangan semalam bercengkrama di kotak mimpi
#

Di beranda tua, seorang gadis menatap rembulan yang berjelaga; di matanya sepi menarikan tarian luka dari mimpi yang purba

#
Berteduhlah di berandaku, kekasih, telah kusiapkan sebuah pembaringan biru tempat kita melelapkan rindu
#
Ada remang kejora berpendar di beranda malam, melangitkan doa yg kutitipkan pada angin yg berembus di hutan cemara
Jika senja telah usai, kan kurangkai sebait doa menjadi selimut malam yang kelak menjagamu dari gigil rindu yang merinai
#
Jika senja datang mengetuk jendelamu, sambutlah ia dengan segenap degup di dadamu; rindu yang kan menjagamu
#
Jika senja jatuh di berandamu, itu aku yang turut serta menjemputmu, menyalakan lentera rindu di sekat hatimu
#
Seikat hujan jatuh di bawah pohon kenanga, di lengannya senja mengguratkan sebait puisi yang tak bernama
#
Aku terdiam mengeja setiap aksara di lembar kenangan, memastikan tak ada lagi luka yang tersimpan di deretan abjad yang kau tuliskan
#
Sepotong senja berwarna jingga pernah kusimpan untukmu. Pandangilah, saat senja di langit kotamu berlangit kelabu
#
Dan di selubung malam, angin meluruhkan daundaun kenangan, jatuh melayang di hamparan bayang kelam
#
Kukembarai malam ditemani rembulan yang meremang sendu, satu tempat kutuju; hatimu
#
Sempat kutitipkan rinduku pada angin. kelak, malam akan menjatuhkannya menjadi embun yang membasah di hijau dedaunan
#
Tak kutemukan kerlip bintang di langit malam, apakah luka begitu merajam hingga kejora pun ikut padam?
Rerintik embun mulai jatuh di lembar daun-daun, dan malam mendekap sepi di antara gigil rindu yang kian merimbun
#
Malam jatuh sempurna di halaman; bulan kusam, dan angin melagukan nyanyian-nyanyian hitam
#
Dari sepi sebuah puisi, pagi melangitkan doa dari sebuah hati menjadi bilah-bilah cahaya yang kelak kau beri nama cinta
#
Di selasar pagi, apa yang mampu kau hikmati? Mungkinkah sepi? Atau sekeping kenangan yang tak mau pergi?
#
Ada sisa cahaya rembulan yang menempel di langit ingatan, tentang sederet aksara yang tak usai kita eja; kerinduan yg hampa

#
Kutanyakan pada pagi adakah rahasia dalam dadamu? Mungkin degup rindu meski hanya pelan; adakah untukku?
#
Kau bayangkan seperti apa aku di pagimu? Sebagai embun atau sebatang ranting tempat matahari menitip hangat nya?
#
Dan embus angin di reranting cemara adalah aksara, bersama kita coba mengeja rindu yang kian pekat, segelap senja yang jatuh di semua tempat
#
Sebab senja yangjatuh di matamu, adalah pelataran tempat ku singgah, dimana rapuhku menambatkan langkah
#
Seperti perang Baratayudha di padang kurusetra, rinduku; amuk dendam di dada paling dalam
#
Pada pagi, malam menitipkan pesan kerinduan yang diterjemahkan menjadi bebulir embun di basah rerumputan
#
Maka langitkan rindumu, dan pagi akan menyuarakannya menjadi bunyi; puisi pengusir sepi
#
Kelak saat pagi muncul dari balik kabut, kita akan melukisi kanvas hidup kita dengan warna-warna lembut; sebuah lukisan perjalanan hidup
#
Malam telah menyeru sang fajar untuk terbit. Bukankah pagi adalah sesuatu yang baik untuk menuliskan asa di kaki langit?
#
Aku tak sempat mengucap salam pada malam, tapi aku menitipkan rindu di setiap tetes embun yang melekat di pucuk-pucuk daun
#
Kita saling diam menunggu kereta, mencoba menemu kata yang terpenjara, hingga kereta tiba dan kau menaikinya tak jua kita mampu mengucap apa
#
Lalu kereta menjelma menjadi lorong waktu, membawa pergimu, dan menyisakan selembar kenangan yang kubaca diamdiam
#
Lalu di tempat entah, jauh yang tak terjamah, secuil rindu ikut terbawa laju kereta, berderak seperti gerak roda-roda tua
#
Kutitipkan ia, rindu yang tak sempat kau baca, pada embus udara yang menelusup di jendela kereta
Pun gigil kerinduan menadah embun malam di sisi hutan; pembasuh luka-luka yang berdiam di ingatan
#
Begitu lembut angin mengembus di sela rimbun bunga sakura, cerlang kejora itu; penuntun tatih lemah langkahku; menggapai rembulan hatimu

#
Wangi seroja, memenuh setiap sudut semesta, begitu harum aroma kerinduan, seiring mentari pulas di peraduan
#
Biarkan aku tetap terluka, jika dengan begitu aku bisa menikmati makna sebuah cinta
#
Gerisik daun tebu menyapaku di antara angin musim yang tak menentu. Ilalang membisu, menatap kosong langit yang tersaput awan kelabu
#
Senja kelabu tua, saat kita berlarian di bawah mega tanpa langit jingga, menepikan luka-luka
#
Bejana rindu telah retak,kini kita mencoba menepis jarak,didera waktu yang terus berdetak

#
Pada kepak sayap angina dengarlah segala rinduku yang berdetak, segala inginku yang berkehendak
#
Kelak, hujan akan menaburkan kenangan menjadi butir-butir harapan, di sebuah negeri yang kita namakan sepi